BAHAYA PHUBBING BAGI HUBUNGAN SOSIAL

Bahaya Phubbing Bagi Hubungan Sosial. Akhir-akhir ini istilah phubbing kembali marak dibicarakan. Phubbing adalah istilah untuk seseorang yang lebih memilih fokus terhadap gawai atau sosial media dan mengabaikan lawan bicara yang ada di depan mata. Phubbing merupakan kependekan dari Phone Snubbing.

Istilah phubbing kembali viral dengan adanya studi yang dilakukan oleh Dr James Roberts dan Dr Meredith David dari Baylor University di Texas.

Kecanduan terhadap gawai yang sudah tidak lagi bisa dikendalikan dalam kegiatan bersosial membuat hubungan sosial kita menjadi renggang. Phubbing bisa saja membuat lawan bicara yang kita abaikan merasa marah atau bosan.

Dilansir dari cnn.com, kampanye untuk menghentikan phubbing ini mulai digencarkan oleh agensi periklanan McCan kemudian diramaikan oleh media di seluruh dunia. Istilah phubbing pun resmi didaftarkan dalam kamus Macquarie.

Seiring waktu berjalan, ada juga yang menyebut phubbing dengan istilah ‘autis’ namun hal ini mendapat kecaman dari banyak orang karena menyinggung makna autis yang sebenarnya. Istilah tersebut sudah tidak digunakan lagi oleh banyak orang karena dinilai terlalu kasar.

Dari sekitar 143 individu yang diujicobakan, nyatanya 70% tidak bisa lepas dari gawainya dan melakukan phubbing. Penelitian dilakukan dengan mengamati 143 responden yang masing-masing diperintahkan untuk menonton animasi poker online percakapan, kemudian menyuruh mereka untuk membayangkan diri mereka ambil bagian di dalamnya.

Ketika tingkat phubbing meningkat, diketahui bahwa orang menjadi lebih marah. Hal itu dikarenakan adanya lebih banyak ancaman terhadap kebutuhan dasar manusia dalam berhubungan. Semakin banyak phubbing terjadi, banyak responden yang percaya bahwa hubungan itu menjadi kurang dalam segi makna maupun arti.

Ada tiga faktor BAHAYA PHUBBING BAGI HUBUNGAN SOSIAL !

Sementara itu menurut pakar hubungan sosial dari The Hart Centre, Australia, Julie Hart, ada tiga faktor hubungan sosial yang menjadi tumpul karena phubbing.

1. Pertama adalah akses informasi, yaitu kemampuan mendengar dan membuka diri akan informasi dari lawan bicara.

2.Kedua adalah respon, yakni usaha kita untuk memahami apa yang disampaikan oleh orang lain dan mengerti maksud yang disampaikan.

3.Ketiga adalah keterlibatan, saat dua faktor sebelumnya diabaikan, maka seseorang tidak akan terlibat dari wacana yang dilontarkan dan akhirnya hanya mengiyakan saja, yang kemudian memicu kemarahan atau tersinggung lalu membuat lawan bicara kita akhirnya malas berbicara lagi.

Phubbing Bahaya dalam hubungan keluarga

Phubbing yang sekarang terjadi ternyata cukup memprihatinkan, sebab hal itu dilakukan saat momen kebersamaan sedang terjadi. Misal, dalam acara keluarga, berkumpul dengan sahabat, atau saat bertemu dengan pasangan kita.

Phubbing sangat berbahaya jika dilakukan terus-menerus. Dampaknya adalah pada hubungan sosial kita yang menjadi rusak dengan orang lain. Atau bisa saja kita yang akhirnya dijauhi akibat rasa marah lawan bicara kita yang merasa tidak dihargai lagi. Peneliti Varoth Chotpitayasunondh dan Karen Douglas juga percaya bahwa phubbing dapat sangat merusak rasa memiliki serta keberadaan yang bermakna dan juga harga diri. Sebab, pada dasarnya tidak ada orang yang suka diabaikan.

Hilangnya kepercayaan diri

Namun, bukan hanya terhadap diri sendiri, phubbing juga berakibat buruk pada orang lain. Misal, hilangnya kepercayaan diri lawan bicara kita yang merasa diabaikan begitu saja. Membuat mereka semakin enggan membuka percakapan. Namun nyatanya, ada juga phubbing yang disengaja. Yaitu saat ada orang yang tidak kita sukai atau tidak membuat kita nyaman ikut serta dalam obrolan.

Mencegah phubbing tidak semudah yang dibicarakan apalagi jika kita sudah sangat kecanduan. Namun, ketika phubbing terjadi, cobalah untuk meletakkan gawai kita dan mulai fokus terhadap lawan bicara. Ingatlah bahwa phubbing akan berdampak buruk pada hubungan pertemanan dan juga orang lain. Bisa juga dengan memberi mode diam pada gawai agar kita tidak terus-terusan mendengar notifikasi panggilan atau pesan yang akhirnya membuat kita tertarik bermain gawai lagi. Letakkan gawai pada tempat tersembunyi seperti dalam tas atau saku.

Namun, sebanyak apapun tips dan trik mencegah phubbing yang diberikan jika kita tidak berusaha untuk mau merubah sikap kita, rasanya memang percuma. Jadi, kembali lagi pada diri kita sendiri.

Ingatlah, bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Termasuk dalam hal bermain gawai atau bersosial media. Sesuatu yang berlebihan itu akan membuat kita menyesal suatu hari nanti, saat hubungan sosial kita sudah hancur dan ditinggalkan oleh teman-teman kita. Mulai sekarang marilah kita mencoba menghindari agen domino yang namanya phubbing. Coba bayangkan jika seandainya kita yang diabaikan oleh orang lain karena sibuk dengan gawainya, sangat tidak menyenangkan bukan?

Marilah sedikit demi sedikit mulai berusaha mengurangi kecanduan terhadap gawai. Karena meskipun gawai itu penting, tapi bahaya yang ditimbulkan oleh gawai saat kita mulai kecanduan dan melakukan phubbing juga sangat penting. Tidak boleh diabaikan. Mari menjadi manusia yang lebih bijak dalam segala hal.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *