Cara Menjadi Pribadi Jiwa Sosial pada Era Milineal

Cara Menjadi Pribadi Jiwa Sosial pada Era Milineal. Tuntutan perkembangan teknologi memunculkan orang-orang sibuk. Rata-rata dari pekerja memiliki waktu terbatas untuk berbaur dengan masyarakat sekitar. Mereka lebih menyibukkan diri di dalam rumah masing-masing. Jika ada kegiatan sosial pun jarang ikut andil. Bagi pekerja yang memiliki kepribadian tertutup omset dan waktu bersama keluarga itu penting. Apalagi sering melakukan perjalanan dinas, jiwa sosialnya hanya terbatas pada lingkup yang cenderung sempit. Jiwa sosial menjadi rentan pudar ketika komunikasi semakin cepat dan mereka lebih leluasa melakukan kontak secara tidak langsung. Akhir-akhir ini udangan pernikahan sudah tidak jarang mengundang melalui ponsel, bagi orang yang mempertahankan prinsip dasar mengundang menggunakan undangan. Ia tidak akan datang ke acara yang dimaksud.

Sumber : https://www.pexels.com

Kegiatan sosial di masyarakat modern sudah tidak sebanyak di desa. Jiwa sosial pada masyarakat modern lebih menganut ‘nafsi-nafsi’ yang berarti sendiri-sendiri. Mereka kurang rasa sadar bahwa manusia terlahir memiliki jiwa sosial, karena makhluk sosial. Makin berkurang kepedulian mereka kepada sesama, terlebih jika ada yang sakit. Rata-rata hanya mengucapkan, “semoga lekas sembuh” lewat telepon. Belanja sudah tidak ke pasar tradisional lagi, yang biasanya terjadi komunikasi maupun kegiatan tawar-menawar harga–yang mempererat hubungan sosial. Berbeda dengan masyarakat modern yang memilih belanja di minimarket maupun belanja online.

Bahkan pada akhir pekan, sudah luntur kegiatan kerja bakti di lingkungan sekitar. Jiwa sosial merupakan hal yang sangat fundamental bagi lingkungan, karena kita akan berinteraksi sosial kepada banyak orang. Ketika mempunyai jiwa sosial Anda juga akan mudah mendapatkan kebutuhan dan kebahagiaan yang diinginkan.

Banyak contoh untuk menjadi pribadi yang memiliki jiwa sosial.

  1. Biasakan Mendengar daripada Banyak Bicara.

Diciptakan sepasang telinga dan satu mulut artinya harus lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Saat Anda sudah terbiasa untuk mendengarkan orang, sebenarnya Anda sedang melatih diri menghargai orang lain. Mendengarkan menjadi sebuah gerbang awal untuk memupuk menjadi pribadi jiwa sosial. Ini merupakan cara agar mudah terbuka dalam sebuah percakapan. Saat mendengar, utamakan untuk menatap lawan bicara sebagai tanda Anda menyimak dengan saksama dan memiliki jiwa sosial yang tinggi.

  1. Tetap Menjaga Perilaku yang Positif

Mungkin Anda masih belum bisa menjaga perilaku yang positif setiap hari, namun usahakan untuk menjaga attitude ketika bertemu dengan orang. Menjaga perilaku saat berada dalam perkumpulan di luar. Ketika Anda sudah bisa mengendalikan sikap, orang lain akan menilai dengan baik, sebagai orang yang hangat tentunya memunculkan karakter harmonis. Pada ujungnya Anda akan terbiasa mengakrabkan diri dalam masyarakat, sebaliknya masyarakat akan memberikan label jiwa sosial tinggi.

  1. Empati Menjadi Inti Jiwa Sosial

Zaman milinial kini orang-orang cenderung masa bodoh dengan keadaan sekitar. Mereka lebih dekat dan akrab dengan teknologi, ketika teknologi berada di hati segalanya menjadi tidak penting. Benar adanya teknologi mempermudah untuk komunikasi, yang jauh menjadi terasa dekat. Sayangnya, yang dekat menjadi sangat jauh karena teknologi juga. Perhatikan saat ada acara kumpul keluarga, masing-masing akan sibuk dengan gadget-nya. Kurang adanya rasa empati kepada keadaan bisa membekukan jiwa sosial. Fenomena yang terjadi saat ini rutin memberi kabar kepada banyak orang, tetapi lupa memberi kabar orang-orang terdekat. Cuek dengan keadaan lingkungan. Dampak dari keseluruhan ini manusia menjadi sosok egois.

Mereka hanya menginginkan didengarkan sementara tidak ingin mendengarkan orang lain. Nilai penghargaan kepada orang lain menjadi sangat rendah. Berkurangnya rasa percaya, komitmen dan interaksi di dunia nyata menjadi pasif. Pola hidup semacam ini patut dihindari. Jiwa sosial tidak akan tumbuh pada orang berpikiran pasif dan egois.

Empati sebagai inti dari jiwa sosial sangat menentukan keberlangsungan hidup. Ketika Anda sudah ikut merasakan apa yang orang-orang rasakan, muncul rasa peduli. Empati tidak hanya sekadar ikut merasa sedih akan penderitaan orang lain. Tetapi perlunya memberikan apresiasi kepada orang-orang yang mendapatkan kesuksesan maupun kebahagiaan.

Contoh dari empati; ikut merasakan kebahagiaan saat teman lulus wisuda, tidak sekadar memberikan ucapan lewat telepon. Menghadiri acaranya adalah salah satu wujud jiwa sosial. Ketika ada yang melahirkan, wujud empatinya berupa berkunjung dan memberikan hadiah kepada yang bersangkutan.

Hal-hal sederhana yang tujuannya membuat orang lain bahagia, membantu kesulitan yang dihadapi teman merupakan salah satu bagian dari cara memupuk jiwa sosial. Tidak mudah untuk berkomitmen menjadi pribadi jiwa sosial, namun jika hal-hal kecil yang merupakan untuk kepentingan orang banyak. Anda akan mudah diterima masyarakat luas dan kehidupan Anda menjadi lebih teratur. Begitu pun saat Anda mengalami musibah atau kesulitan, orang-orang dengan ikhlas segera mengulurkan tangan untuk Anda, ini merupakan manfaat dari jiwa sosial.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *